Posted in health, Journey, Motherhood, Parenting

Sekelumit tentang Nursing while Pregnant

Alhamdulillaah..

Sejatinya kita nggak pernah tau apa yang sudah Allah siapkan untuk kita. Just like finding out my 3rd pregnancy while Fatima was still 1-year-old. Manusia memang hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan. Apa-apa yang dalam logika manusia tidak mungkin, apalah yang nggak mungkin bagi Allah. Bahkan hal yang nggak pernah kita ucapkan, atau hanya terbersit dalam hatipun, Allah jelas MahaTau and in no time bisa membuat kita terkaget-kaget dengan keputusan-Nya.

Continue reading “Sekelumit tentang Nursing while Pregnant”

Posted in Journey

ALLAH Knows What’s Best.. (part 3-end)

Setelah hampir 3 minggu berkutat dengan efek samping virus mumps – perut mual, sakit telinga, sakit kepala, nggak enak makan, nggak enak badan, pluuus nggak enak pikiran, alhamdulillaaah sehat juga….

Continue reading “ALLAH Knows What’s Best.. (part 3-end)”

Posted in Journey

ALLAH Knows What’s Best.. (part 1)

Sudah hampir 1,5 tahun sejak berikhtiar untuk punya anak lagi. Sejak itu, udah menyiapkan diri juga untuk kembali ‘menikmati’ masa morning sickness, masa ‘mengembangnya’ seluruh badan, masa enak makan dan susah tidur setelahnya karena kekenyangan, hingga masa ‘menikmati’ mules menjelang melahirkan… kemudian insyaAllah menimang bayi kecil, ngASI, MPASI, toilet training, and restarting all over again

Continue reading “ALLAH Knows What’s Best.. (part 1)”

Posted in Journey, Motherhood, Parenting

Tentang Membangun Kepercayaan Diri Anak

Malam itu..

Saya dan suami sholat Isya berjamaah. Alma malah mondar mandir keluar masuk kamar lalu duduk di atas kasur, duduk layaknya lagi menahan untuk buang air kecil – bergoncang goncang. Turun dari kasur, keluar kamar, masuk kamar lagi, lalu duduk lagi di atas kasur, begitu seterusnya – bolak balik.

Continue reading “Tentang Membangun Kepercayaan Diri Anak”

Posted in Journey

When the Plan Didn’t Go as Expected

Tanggal 16 lalu, my little sunshine was turning five.

Di tahun-tahun sebelumnya, tanggal ini kami lewati bertiga saja di perantauan. Berhubung disana Alma nggak punya banyak teman sebaya, biasanya kami bertiga keluar makan, beli mainan, atau sekedar main sepeda di taman kota. Malemnya, dilanjut pillow talk sama suami tentang how time does fly, reminiscing momen-momen mules sebelum dan saat Alma lahir, sampai sekarang sudah jadi gadis kecil – sambil ngeliatin Alma yang sudah lelap tidur. Paling banter, ditutup dengan saya bikin birthday note di blog – itupun kalau lagi ada ide, hehe.

Continue reading “When the Plan Didn’t Go as Expected”

Posted in In English, Journey, Motherhood

Tentang Kebahagiaan

image

About 30 to 50 percent of happiness is genetically determined;
about 10 to 20 percent reflects life circumstances (such as age, gender, health, marital status, income, occupation);
and the rest is very much influenced by the way we think and act.
(Gretchen Rubin in her book “Happier at Home”).

Anybody agrees with Gretchen Rubin’s research-based-thought? 😉

Bahagia itu relatif. Bentuk relativitas yang sangat tergantung pada standar tertentu yang dibuat setiap orang. Bisa sama dan mungkin banget berbeda.

Continue reading “Tentang Kebahagiaan”

Posted in In English, Journey

Pearl Island, Memories Remain

image

It was a place where she arrived enthusiastically, nearly five years ago, as a newly wed, thinking about nothing other than spending time with her other half.

It was also a place where she realized that living faraway from family means she got to manage all things without any intervention, which was a good thing, but she’s not saying it was easy.

Continue reading “Pearl Island, Memories Remain”

Posted in In English, Journey

Virtual Friend vs Real-life Friend

Virtual friend gave you his/her ‘Like’, real-life friend gave you a bold hand-shake.

Virtual friend commented on your status, real-life friend gave face-to-face advice.

Virtual friend sent you emoticons, real-life friend shared with you real emotions.

Virtual friend sent you a ‘hug’ emo, real-life friend gave you a warm hug.

Continue reading “Virtual Friend vs Real-life Friend”

Posted in Journey

A Look Back at 2014: Kenapa Nge-blog?

“Siapa sih saya? Emang ada yang mau baca kalau saya bikin tulisan macam curhat?”

Pikiran-pikiran begitu sering sekali mendengung di kepala, bahkan sampai detik ini 😅 Tapi, sebagai bagian dari rasa syukur dan terima kasih, rasanya perlu juga sedikit flashback, mumpung masih awal tahun 😉 #hihi..sok penting 😛 Nggak apa lah ya, diary pribadi ini 😀

2014 adalah tahun yang cukup spesial buat saya. Di tahun inilah ada dorongan ‘dahsyat’ yang bikin saya punya ‘rumah curhat’ yang cukup ‘hidup’, selain diary bergembok jaman SD dulu 😅

Continue reading “A Look Back at 2014: Kenapa Nge-blog?”

Posted in In English, Journey

Who Would Have Known?

In life, one long journey, many phases are encountered.

Phases of life.. each with different kinds of roads, intersect one another.

At the intersection, one road leads to another…. and yet, you are clueless, in a way, guessing which road to choose, where this road would take you, how this road would end, and what kind of phase you would face afterwards.

Continue reading “Who Would Have Known?”

Posted in Journey

Why Am I Burdened This Way?

Seminggu kemarin, rasanya pengen mudiknya dipercepat sajaaa, heu.

Semua berawal dari sekitar 1 bulan lalu – saat hampir setiap hari Ayah tidur tengah malam, gak jarang menjelang dini hari – untuk mengejar deadline submission PhD thesis demi  ‘menanggalkan’ status mahasiswanya di tahun ini. Nothing good comes easy, indeed.

Puncaknya, weekend dua minggu yang lalu kami kedatangan dua orang traveller dari Bandung. Selalu senang kalau ada yang berkunjung karena rasanya seperti ditengokin, apalagi yang datang dari kampung halaman. Menikmati weekend dengan berkeliling Penang sejak pagi dan baru tiba di rumah saat matahari sudah gak lagi kelihatan, ternyata cukup menjadi pemicu runtuhnya daya tahan tubuh Ayah malam itu 😦

Demam tinggi, sampai 39,4 derajat 😦

Continue reading “Why Am I Burdened This Way?”