Posted in Journey

ALLAH Knows What’s Best.. (part 1)

Sudah hampir 1,5 tahun sejak berikhtiar untuk punya anak lagi. Sejak itu, udah menyiapkan diri juga untuk kembali ‘menikmati’ masa morning sickness, masa ‘mengembangnya’ seluruh badan, masa enak makan dan susah tidur setelahnya karena kekenyangan, hingga masa ‘menikmati’ mules menjelang melahirkan… kemudian insyaAllah menimang bayi kecil, ngASI, MPASI, toilet training, and restarting all over again

Berbagai ‘rencana’ disiapkan, mengatur timing sampai menghitung perkiraan lahiran supaya nggak bentrok dengan ini itu.. harus setelah prajabatan lah, setelah selesai diklat fungsional lah – yang ternyata diundur ke tahun ini – , jangan beririsan 2x dengan Ramadhan lah, pengen punya anak dulu baru sekolah lagi lah… soooo many considerations – carefully planned with much detail.

Since then, 3 bulan berlalu, masih belum berbuah dua garis pada testpack. Menerima saran dari beberapa orang untuk coba dateng ke konsultan fertilitas – bagian dari ikhtiar –.

“Siklus mens teratur tidak selalu berarti sel telur matang. Dari hasil USG, tidak ada bekas ovulasi. Sel telurnya pun kecil-kecil. Untuk ovulasi terjadi, harus ada 1 sel telur berkualitas yang nantinya akan dibuahi.”

“Kenapa bisa begitu ya, Dok?”

“Metabolisme dan keseimbangan hormon. Bisa karena stress juga. Harus rajin olahraga, ya. Minimal 5 kali dalam seminggu, 30 menit – 1 jam tiap hari dan harus berkeringat. Jangan jalan kaki, paling minimal lari. Ini saya kasih obat untuk 2 bulan, minum kalau memang sudah bisa rutin berolahraga. Kalau belum, jangan dulu.”

“Gimana caranya olahraga 5x seminggu? Waktunya kapan? Pagi sibuk siap-siap dan masak, sore pulang kerja udah cape”, saya membatin.

Beberapa minggu kemudian, suami membelikan saya treadmill. Awalnya semangat, ternyata sekali coba cuma kuat 10 menit. Second trial, belum sampai setengah jam lari di atas treadmill saya pusing, kliyengan.. “Aaah.. I don’t think this will work.

Singkat cerita, sejak itu nggak pernah sempat untuk rutin olahraga. Efeknya, obat dari dokter pun nggak saya minum. Pernah mencoba konsul ke dokter lain setelah beberapa lama, ternyata diagnosis dan sarannya sama.

Bulan demi bulan berganti, yang ada hanya pergumulan pikiran dan denial dalam kepala saya sendiri.

“Toh dulu juga nggak perlu olahraga alhamdulillah ‘jadi’ aja. Malah kalau dibilang, dulu sebelum nikah dan hamil Alma, saya malah lebih stress karena nyiapin pernikahan dilanjut nyiapin sidang tesis. Yaa.. mungkin memang belum waktunya.”

Saya nggak ambil pusing, atau lebih tepatnya, nggak mau ambil pusing. Saya terus menyangkal dan mencari pembenaran kenapa saya nggak ‘menyempatkan’ diri untuk olahraga rutin, “Waktunya kapan? Gimana bisa rutin? Lari bentar doang udah pusing…..”.

Ya, saya memang payah.. haha…

***

Hampir setahun berlalu since my last consultation with the obgyn, sampai saya ketemu salah seorang sahabat lama. Kami lumayan dekat, sudah sama-sama menetap di Bandung, cuma memang dia agak susah ditemui karena sibuknya luar biasa. Saat akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama, as expected pasti saling cerita banyak, catching up and stuff. Saya cerita soal ‘rencana’ saya dan suami sejak hampir setahun lalu, hasil diagnosis dan konsultasi kami ke dokter, sampai ke alasan saya bahwa mungkin memang belum waktunya jadi saya ‘pasrah’ aja, karena dulupun nggak pakai olahraga alhamdulillah saya bisa hamil.

Dia cuma komentar,

“Loh.. ikhtiarnya aja belum tuntas, gimana sih? Dulu sama sekarang udah beda kaliii.. dulu baru nikah sehat masih muda, sekarang umur berapa? Kondisi badan udah beda, Buuu… “

#and it slapped me right on the face

“Kalau treadmill-an bikin pusing, kan bisa aerobic, gampang, tinggal buka youtube, beres.”

What an enlightment! 😀

Entah kenapa saya sampai lupa keberadaan youtube yang sebetulnya bisa sangat membantu saya sejak lama. Who needs treadmill, anyway? Hihi…

Beberapa hari setelah itu, setiap pagi saya buka youtube dan mencari keringat, aerobic atau zumba atau yang sejenisnya, you name it. Setiap habis Shubuh selama 30 menit kalau weekdays, dan 1 jam di weekend, saya senam di depan layar di rumah, kadang iPad kadang TV.

Satu bulan berlalu.

Testpack masih menunjukkan single line.

Saya mogok olahraga.

Ya, payah memang.

#padahal, olahraga rutin tuh nggak bakalan bikin rugi kan? tapi kenapa susah dan malasnya luar biasa? 😦

***

Seminggu berikutnya, saya ketemu sahabat-sahabat lama saya di pernikahan salah seorang sahabat kami. It was a Saturday night’s wedding and we had the chance to catch up since we’re provided with rooms in a villa. Sekian lama nggak ngumpul bareng, stories bursted out. Laughters and tears bercampur di tengah malam saat anak-anak dan suami sudah pada tidur.

Nggak ketinggalan, pastinya sayapun cerita soal ‘rencana dan ikhtiar’ saya dan suami setahun ke belakang. Salah seorang sahabat kami, yang sampai saat itu belum dikaruniai keturunan, bilang kalau dia sudah mengalami saaaaaangat banyak dalam perjalanan ikhtiarnya untuk bisa punya anak. Aseli, nggak seberapa kalau dibandingkan dengan apa yang saya alami. Bukan hanya dari segi materi dan waktu, tapi soal perjalanan batin.

Dia bilang,

“….akhirnya gue sampe di titik pasrah yang betul-betul pasrah, menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah hak prerogatif ALLAH. DIA-lah yang MahaMengatur, Menetapkan dan Menentukan, siapa yang akan diberinya saat ini, siapa yang masih harus menunggu.. Kalau memang takdir gue nggak punya anak di dunia, insyaAllah akan ada waktunya di akhirat nanti. Hey, siapa gue mengatur ALLAH untuk ngasih gue anak di waktu yang gue mau?”

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” [QS Asy Syuura 49-50].

Astaghfirullaahaladziim… another slap on my face.

I didn’t know what took me so long untuk menyadari hal itu. Tapi sahabat saya bilang, she had to went through soooooooo many things sampai akhirnya bisa sampai di titik kesadaran dan kepasrahan ini. Semuanya ada di dalam Al-Qur’an.

Sahabat saya yang lain, yang juga sudah punya 1 anak, ikut komentar, “Memang harus ya, punya anak lebih dari 1? Emang kenapa harus punya anak kedua, dan seterusnya?”

Honestly, it got me thinking. Tujuan saya ingin punya anak lagi itu apa? Niatnya apa? Mungkin ini yang harus saya perdalam lagi, bukan ‘sekedar’ supaya Alma ada teman dan bikin dia jadi lebih mandiri, tapi lebih dari itu… apakah punya anak lagi bisa bikin bonding saya dan suami jadi lebih baik dari yang sekarang? Apakah bisa bikin kami jadi lebih dekat sama ALLAH? Apakah bisa bikin kami jadi lebih bersyukur?

Besok paginya, kepala saya sudah terisi dengan sugesti baru dan hati saya terasa lebih tenang… who am I untuk ‘merencanakan’ dan ‘mengatur’ TheAlmigthy untuk kasih kami anak?

Saya khilaf.

Sejak saat itu, saya jadi lebih pasrah.. Nggak pernah lagi berpikir keras setiap datang perkiraan waktu ovulasi, atau stress luar biasa kalau ternyata testpack masih menunjukkan satu garis. Nggak baper-an lagi kalau orang nanya, kayak for the past few years, “Kapan ngasih adek buat Alma?” – yang padahal emangnyaaaa adek bayi kita yang ngasiiiih? 😅 haha…

Menikmati dan mensyukuri setiap waktu yang saya bisa habiskan sama keluarga, sama suami, dan sama Alma. Ya, saya baru sadar sebegitu kuatnya keinginan saya untuk punya anak lagi, sampai seringkali saya seperti ‘terlupa’, saat ini ada anak kecil beranjak besar yang bisa kami temani main dan belajar, bisa kami sayangi, amanah yang harus kami didik, karunia yang harus kami syukuri.

Saya sadar, saya sangat sangat kurang bersyukur.

Harus lebih bersyukur, masih dikasih umur menghabiskan waktu berkualitas sama Alma, Ayah, dan keluarga yang lain. Masih dikasih hidayah untuk terus memanjatkan do’a-do’a di tengah malam. Alhamdulillaah.

***

Beberapa minggu dijalani dengan tenang, alhamdulillah. Biasanya siklus mens saya teratur, atau kalaupun terlambat, paling meleset 1-3 hari.

Hari itu, sudah telat 5 hari. Tumben.

Iseng, saya minta tolong suami untuk beli testpack, after months nggak pernah beli barang kecil itu lagi.

Tengah malam terbangun.

Ke kamar mandi, lalu melihat ada dua garis. Samar.

Setengah sadar sambil mengucek mata, masih ada, dua garis, samar.

Saya ke kamar, membangunkan suami, asked him to see the lines.

Keluar kamar mandi, dia peluk saya. Alhamdulillaah.

***

source: quotesofislam.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s