Posted in Journey, Motherhood, Parenting

Tentang Membangun Kepercayaan Diri Anak

Malam itu..

Saya dan suami sholat Isya berjamaah. Alma malah mondar mandir keluar masuk kamar lalu duduk di atas kasur, duduk layaknya lagi menahan untuk buang air kecil – bergoncang goncang. Turun dari kasur, keluar kamar, masuk kamar lagi, lalu duduk lagi di atas kasur, begitu seterusnya – bolak balik.

Kami yang baru masuk rakaat kedua sholat, jadi nggak khusyuk. Saya sudah bisa menebak, ini anak pasti pengen ke kamar mandi. Di luar kamar memang nggak ada orang lain, kebetulan lagi pada keluar rumah dan si Mbak nampaknya lagi di kamar mandi luar, terpisah dengan ruang utama rumah.

Sampai di rakaat keempat ditutup salam, saya langsung panggil Alma.

“Nak, mau p*pis ya?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa nggak langsung ke kamar mandi?”

“Nanti siapa yang ceb*kin? Kan Bubu sama Ayah sholat, Mbak nggak ada.”

YA AMPUN! Jerit saya dalam hati.

Terburu-buru saya buka mukena, melipat seadanya, langsung menggiring Alma ke kamar mandi.

Sebegitunya kah Alma “ketakutan” nggak bisa membersihkan dirinya sendiri, sampai nahan p*pis bolak balik?

It was a slap in the face 😦

Jujur, saya selama ini nggak pernah “serius” mengajarkan Alma to clean herself up – by herself. Alasannya klise, takut nggak bersih. Saya nggak percaya kalau dia bisa membersihkan dirinya sendiri sampai benar-benar bersih, atau minimal mencapai “standar bersih”-nya saya.

Tapi di umurnya sekarang yang sudah 5 tahun, apa “bersih” lebih penting daripada believe in her? Apakah lebih penting daripada membangun kepercayaan dirinya?

Mungkin ini keliatan “sepele”. Tapi, setelah kejadian itu, saya berkaca pada diri saya sendiri.

Saya ingat kalau dulu, saking sayang dan pedulinya sama anak-anaknya, orangtua saya seringkali nggak membiarkan kami “susah” atau striving untuk diri kami sendiri, seringkali membantu di hampir setiap tantangan yang kami temui, bukan hanya sekedar mendampingi, tapi membantu bahkan SEBELUM kami sempat BERUSAHA melakukan apapun.

After I recall, that was me doing exactly the same thing to Alma.

SIGH 😦

Nggak ada yang salah memang, orangtua mana yang nggak pengen selalu memberikan dan memfasilitasi yang terbaik untuk anaknya?

Tapi, kejadian “sepele” beberapa hari yang lalu seperti mengingatkan saya, apa iya kondisi seperti itu yang dibutuhkan anak?

Setelah saya resapi lagi, nampaknya karakter yang akan terbangun adalah, menjadi kurang percaya diri dan cenderung selalu perlu bantuan orangtua, apapun keadaannya. Cenderung meminta bantuan, bahkan sebelum mencoba melakukan sendiri. Pada akhirnya, dalam kondisi “darurat” yang mengharuskan anak berusaha sendiri, anak cenderung menjadi helpless.

Saya jadi teringat tulisan saya beberapa bulan lalu, yang bahkan sampai saat inipun masih sulit saya praktikkan 100%.

Baca: Cara Sederhana Tumbuhkan Kemandirian Anak

Persis keesokan harinya setelah kejadian itu, saya nggak sengaja membaca tulisan seorang bijak,

Hal terbaik yang dapat orangtua lakukan untuk anaknya adalah mempersiapkan diri anak-anaknya untuk menghadapi dunia tanpa mereka.

Masih di hari yang sama, di radio saya mendengarkan, “…. didikan terbaik yang bisa diberikan orangtua terhadap anaknya adalah memfasilitasi sebaik mungkin agar anak mudah mendapatkan hidayah dari ALLAH.”

Tanggung jawab orangtua adalah memfasilitasi, bukanlah selalu membantu.

Noted.

Malam itu juga, (dengan serius) langsung saya ajari Alma how to clean herself up – by herself. Keesokan harinya, segera setelah bangun tidur, she did the routine all by herself, tanpa panggil saya lagi to help her cleaning up 🙂

Satu kali dikasih kepercayaan, ternyata memang jadi bisa dan percaya diri – juga mandiri 🙂 #semoga.

img_3316

…. karena anak adalah amanah, dan kita sebagai orangtua nggak mungkin akan selalu bisa mendampingi mereka – setiap saat – sampai nanti.

😥

PS: Another self-reminder. Semoga bisa terus belajar jadi orangtua yang lebih baik lagi.

Advertisements

14 thoughts on “Tentang Membangun Kepercayaan Diri Anak

  1. Terlepas dari tujuan tulisan ini yang sangat mulia, sebagai seorang anak yang umurnya sudah tidak muda lagi (haha), saya jadi bertanya-tanya sendiri, apakah saya siap menghadapi dunia kalau satu (atau kedua) orang tua saya sudah tiada? Duh, kadang jadi agak takut atau bagaimana, tapi hari itu kan cepat atau lambat akan datang juga, ya?
    Haha, komentarnya malah kurang nyambung, mohon maaf ya Mbak.

    Liked by 1 person

    1. Duh.. Gara.. saya juga jadinya tersindir dan kepikiran 😦
      Nice point of view, Gar.. Kenyataannya, walau udah jadi orgtua pun tetep punya peran sbg anak.. judulnya reminder dalam reminder, kenyataannya kita bakalan pisah sama semua orang.. 😥
      hopefully when the day comes, we’ll be ready..

      Like

  2. Mbak Andiiiiin…long time no see 😘
    Wah ternyata kemandirian juga perlu diajarkan sejak dini ke anak ya, Mbak. Ini sebagai note buat aku nanti kalo udah married dan punya anak. 😊

    Liked by 1 person

  3. Pengalaman ku banget tuh, Mbak. Aku anak tunggal, jadi berasa ‘gak pede’ kalok mau ngapa ngapain. Takut salah, selalu minta bantuan Mama. Hahah.. Sampek akhirnya masuk ke sekolah yang strict banget, alhamdulillah bisa mandiri jugak 😀

    Like

  4. Bund mau tanya dong berapa biaya yg harus kita siapkan untuk terapi speech delay pada anak??
    Anak sy laki2 2y1m dia blum lancar bicara setiap sy coba latih dy malah becanda dan ga fokus
    Tp dy ngerti apa yg kita ucap jd susah sekali gtu bund
    Kata2 yg baru bs dia ucapa mama ayah minum bobo duduk mbah abah
    Terimakasih..

    Like

    1. Biaya tergantung tempat terapi nya Mba.. biasanya per datang bayarnya.. ada ongkos kosultasi dokter tumbuh kembang juga.. Mba Rahma tinggal dimana? Kalau dulu tahun 2013, Alma saya ikutkan terapi di RSIA Hermina Pasteur. Saya lupa tepatnya berapa kalau nggak salah 65rb atau 75 rb per sesi nya. Mungkin sekarang sudah mengalami kenaikan.

      Sementara bisa dicoba dulu tips yg sudah sy sharing disini:

      https://andinaseptiarani.com/2014/04/30/tips-melatih-anak-berbicara-dan-berkomunikasi/

      Kalau masih belum ada perkembangan yg signifikan, mungkin bisa dikonsulkan ke dokter tumbuh kembang anak karena bisa jadi penyebabnya berbeda.

      Semoga bermanfaat ya Mba 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s