Posted in Motherhood, Parenting

a 2-years-and-4-months-process for good (part 1)

Proses itu dimulai hitungan bulan sebelum Alma tepat menginjak usia 2 tahun. Dimulai dari bubunya belajar, apa itu menyapih, kapan waktu yang paling tepat,  dan bagaimana cara yang paling tepat.

Hasil baca di forum-forum ibu-anak, kecenderungan proses menyapih sekarang ini sudah jauh berbeda dengan jaman ibu kita dulu, menyapih dengan cinta, adaptasi dari Weaning With Love atau biasa disebut WWL.

WWL ini intinya adalah bagaimana supaya proses penyapihan berlangsung ‘nyaman’, anak juga ‘sepakat’ untuk berhenti menyusu, bukan cuma ibu (dan ayah) nya saja.

Menyapih itu kan proses melepaskan batita dari kebiasaannya sejak bayi – yang juga sudah menjadi naluri – untuk menyusu pada ibunya. Kalau jaman ibu kita dulu, katanya sih ya kasih/oles aja PD pakai yang pahit-pahit, biar si anak “kapok” ga mau lagi menyusu. Tapi kalau dipikir lagi, apa iya cara yang paling tepat adalah dengan ‘bohong’ ke si anak? Apa iya melepas sesuatu yang sudah menjadi nalurinya sejak lahir akan jadi sesederhana itu?

Proses menyusu/menyusui itu bukan sekedar proses fisik. Saat proses menyusui berlangsung, ada calming hormones yang diproduksi oleh tubuh ibu dan anak, memberi efek nyaman, menenangkan, bahkan mengantuk. Sounds familiar? 😉 (sumbernya disini dan disini). Bukan cuma itu, breastfeeding is also a psychological process, ada ikatan kuat yang terbangun antara ibu-anak, unconditional love, indefinable care :’)

mydaughter
Sakina Alma Sufina. Umur 2 hari. In search of the nipple :’)

Sebuah proses luar biasa yang dimulai dengan baik, merupakan sesuatu yang jelas baik, kenapa harus ‘diakhiri’ dengan cara yang ‘kurang baik’?

Proses belajar si bubu berlanjut. Kapan sebenarnya waktu yang paling tepat untuk menyapih, karena jujur sempat kepikiran juga, kenapa ‘cuma’ 2 tahun ya – mengingat manfaat ASI yang luar biasa?

Lagi-lagi hasil baca di forum-forum ibu-anak, ada yang berpendapat lebih dari 2 tahun ga masalah kalau ibu-anak sama-sama masih merasa nyaman. Sementara, dari segi ilmiah, memang masih belum banyak penelitian soal manfaat ASI setelah tahun kedua, tapi dari hasil penelitian yang ada, mengindikasikan bahwa ASI yang diberikan setelah tahun kedua tetap menjadi sumber nutrisi dan imun untuk anak (sumbernya disini ) – walaupun tetap ya, tidak bisa menggantikan nutrisi dari makanan.

Nah, setelah itu, saya mulai mencari sumber lain yang keabsahannya lebih dari ‘sekedar’ sharing pengalaman dan sumber ilmiah yang masih sangat sedikit, so I decided to look up in the Qur’an, and there it is, TheAlmighty bahkan sudah mengatur hal sampai yang ‘kecil’ sekalipun, soal masa menyusui:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun….” (QS Luqman 14).

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna….” (QS Al-Baqarah 233).

Di bagian lain, masih di surat yang sama, juga disebutkan:

….Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya… Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya….” (QS Al-Baqarah 233).

Menjelang Alma 2 tahun, sebenarnya saya mulai merasa tidak nyaman saat menyusui. Selain kebiasaaan Alma yang suka memelintir bibir saya sambil ngASI – seringkali sampai luka atau bahkan menjadi infeksi sariawan – juga karena tak jarang saya merasa kesakitan saat Alma menyusu, mungkin karena ASI saya sudah sangat minim, karena sejak umur 18 bulan, Alma sudah tidak pernah bangun malam untuk menyusu dan hanya menyusu dua kali dalam sehari: sebelum tidur siang dan tidur malam.

Berbekal pengetahuan dan informasi yang sudah saya dapatkan, memberi saya kebulatan tekad untuk mulai menyapih Alma. Tinggal mencari tau, bagaimana cara yang paling tepat untuk menyapih. Kalau soal ini, sumber paling berharga menurut saya adalah hasil sharing dengan yang sudah punya pengalaman, alias ibu-ibu lain yang sudah pernah menyapih.

Hasil baca-baca di forum dan sharing dengan teman-teman terdekat, intinya adalah mencoba mengalihkan rutinitas ngASI ke hal lain, sambil memberi pengertian/sinyal ke anak kalau sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk masih menyusu. Akan lebih baik juga kalau dilakukan tidak sekaligus, alias memulai dengan mengurangi frekuensi menyusu. Okay, I get it, sounds simple, tinggal realisasinya yang tampaknya ga sederhana.

Setelah diskusi dengan beberapa teman dan ayahnya Alma, akhirnya pilihan jatuh ke buku sebagai pengalihan: bedtime story-telling, sambil memberi pengertian ‘seadanya’ karena saat usianya 2 tahun Alma masih belum bisa bicara (speech and language delay, nanti saya akan cerita panjang dan khusus soal ini di tulisan selanjutnya). Proses menyapih dimulai dengan ‘menghilangkan’ waktu menyusu di malam hari, karena jelas saya perlu ‘joki’ untuk jadi story-teller, menunggu ayahnya Alma pulang, hehe..

Hari itu 23 Mei 2013, satu minggu setelah Alma menginjak usianya yang ke-dua tahun. Ya, perlu tujuh hari buat saya untuk benar-benar bisa memulai menyapih.

Malam itu ada yang tak biasa. Rutinitas sebelum tidur yang biasanya ngASI ke bubu, ga terjadi malam itu. Alma tidur ditemani ayahnya, saya menunggu di luar kamar. Ayahnya membacakan sebuah buku cerita tentang ciptaan-ciptaan ALLAH, saya menguping dari luar. Mereka berdua terdengar menikmati kebersamaannya, sampai akhirnya saya dengar suara Alma merengek, dan lampu kamar dipadamkan. Saya mulai ga tenang. Ingin tau apa yang terjadi di dalam.

Tapiiiii…. tidak!

Saya berusaha menahan diri.

Percaya atau tidak, saya mengalihkan ketidaktenangan saya dengan mencuci tumpukan piring kotor (great distraction, right?) hehe..

Satu jam lebih berlalu, ayahnya keluar dari kamar, tak berkata-kata. Saya masuk ke kamar, and there she was, tertidur lelap tanpa bubunya, tanpa ngASI.

Ayahnya bilang, tadi Alma sempat gelisah, bolak balik badan mencari saya, tapi akhirnya tertidur lelap sambil dibacakan do’a…

….and my tears suddenly fell that night.

Selama 2 tahun ga pernah lepas dari kedekatan selama ngASI, perasaan ‘dibutuhkan’ oleh anak…. but there she was, terlelap begitu saja tanpa saya, tanpa ngASI. Terdengar sedikit lebay? Mungkin iya, but definitely not that night.

Ayah menenangkan dan mengingatkan. Balik lagi ke niat awal saya. Saya HARUS ikhlas.

Hari-hari berikutnya masih dengan pengalihan rutinitas ngASI ke bedtime story- telling, dan lagi-lagi Alma masih gelisah setiap habis dibacakan buku, bahkan ayahnya bilang, Alma jadi suka gigit-gigit jari/kukunya.. definitely not good 😦

Akhirnya, setelah sharing lagi dengan beberapa teman, saya disarankan untuk ikut masuk ke dalam kamar. Esensinya adalah, supaya anak tau kalau ibunya tetap ada secara fisik, walaupun sudah ga ngasih ASI lagi.

Hari-hari berjalan, sempat berkali-kali hampir ‘goyah’. Siapa yang tega lihat wajah anak umur 2 tahun yang ‘memelas’ ingin dipeluk sambil disusui?

Alhamdulillah, lagi-lagi ada ayah. Hampir selalu jadi pengingat, penyeimbang, penyemangat kalau saya lagi ‘lupa’. Apalagi, ayat-ayat ALLAH juga memperkuat niat ini.

Ayah terkadang harus ‘merelakan diri’ begadang sampai lewat tengah malam saat ada ‘deadline’ karena  waktu kerjanya di malam hari ‘terpotong’ untuk membacakan cerita :’)

Tapi.. hari-hari berlalu.. Ayah terlihat semakin menikmati ‘peran’ barunya jadi story-teller. Ayah jadi punya tambahan waktu yang private dan berkualitas sama Alma, in addition to the weaning process.

Alhamdulillaah, dalam waktu sekitar 1 bulan rutinitas tidur malam mulai dinikmati Alma, dia semakin excited setiap mau dibacakan buku. Thank youu, Ayah.. couldn’t have done this without you.. 🙂

Alma sangat menikmati dibacakan buku sampai akhirnya terlelap… “Bismika allaahumma ahya wa amuut“.. Have a good rest, Nak.. Bubu Ayah sayang Alma :*

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

3 thoughts on “a 2-years-and-4-months-process for good (part 1)

  1. kok bacanya jadi nangis ya mbak? hehe..
    Lima bulan menjelang penyapihan nih, dan saya malah makin galau krn bakal enggak ada yang meluk sambil pegang2 bibir saya 10x dalam sehari T.T
    Semoga aja cerita mbak Andin nanti bisa saya coba untuk anak saya 🙂

    Like

    1. Waduuh jangan nangis doong, hehe.. Galau sih pasti Mba Menur.. Namanya juga bonding Ibu-anak 😉 Cuma waktu itu sy balikin lagi ke niat, selain karena sy udah merasa ‘nggak nyaman’, Alma juga makannya kurang dan selalu cari pengalihan ke ngASI yg padahal udah minim banget. Yg penting, nikmati prosesnya.. 😊 Memang nggak gampang, tapi buat awal, kalau anak nggak minta jangan dikasih, tapi kalau anak minta jangan ditolak juga, sambil tetep diingetin kalau dia udah besar, dll. Semangaaat 😘

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s